Alat Peraga Edukatif

ALAT PERAGA EDUKATIF: Adalah istilah populer di dunia Pendidikan umumnya, dan khususnya Pendidikan Anak Usia Dini. Sebagai salah satu jenis permainan yg tidak saja mengedepankan sisi edukatif (proses pembelajaran) tetapi juga unsur hiburan bagi anak-anak yg memainkannya. APE juga bermanfaat untuk berbagai macam jenis therapy bagi banyak kalangan, mulai dari anak-anak usia balita, remaja, dewasa, hingga lansia, seperti okupasi therapy, brain gyms, dll. Sayangnya, istilah APE saat ini dipahami hanya sebatas APE u/PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Sehingga eksistensi APE bagi siswa SD, SLTP, SMU, Mahasiswa, dst. seolah-olah dinafikan sama sekali keberadaannya. Selain itu, APE seringkali digambarkan sebatas permainan berupa puzzle atau mainan bongkar pasang saja. Sehingga APE lain seperti tower hanoi, balok bangun, globe, rangka/anatomi tubuh manusia, origami, lego, dll. seolah-olah identik dengan puzzle. Benarkah demikian? Mari kita cermati bersama keberadaan APE di tengah-tengah sistem pendidikan yang ada di negeri ini.

Jumat, 06 Maret 2015

ADDIE(Analisys, Design, Development, Implementation, Evaluation) : Ranking 11 Lomba Karya Tulis PTK PAUDNI Tingkat Jawa Tengah 2014

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA), jumlah penduduk usia produktif di Kota Salatiga sebesar 134.375 jiwa, ternyata hanya 37.525 orang yang masuk pada kategori jumlah angkatan kerja. Sementara itu jumlah kesempatan kerja hanya mampu menampung 640 tenaga kerja, sehingga tidak semua angkatan kerja yang ada di Kota Salatiga dapat terserap bekerja dan menjadi pengangguran. Salah satu cara mengurangi angka pengangguran adalah pengembangan semangat dan jiwa wirausaha, karena suatu bangsa akan maju apabila jumlah wirausahawannya paling sedikit 2% dari jumlah penduduk. Dengan demikian perlu dikembangkan semangat wirausaha agar terbentuk karakter pengusaha melalui program pelatihan keterampilan.
Pelatihan keterampilan secara konseptual didefinisikan sebagai proses pembelajaran tentang pengetahuan atau keterampilan yang diselenggarakan dalam waktu singkat oleh suatu lembaga yang berorientasi kebutuhan masyarakat. Trisnamansyah dalam Situmorang (2014) mengingatkan bahwa penyelenggaraan pelatihan keterampilan tidak hanya memberi bekal pengetahuan atau keterampilan saja tetapi juga menanamkan dan mengembangkan semangat dan jiwa wirausaha kepada warga belajar. Kewirausahaan sebagai outcome pelatihan keterampilan diharapkan membuka lapangan pekerjaan baru yang menuntut kemandirian dan semangat kewirausahaan.
Pelatihan keterampilan merupakan operasionalisasi program PAUDNI di bidang Pendidikan Masyarakat. Pendidikan Masyarakat merupakan upaya pendidikan yang diprakarsai pemerintah secara terpadu dengan upaya masyarakat untuk meningkatkan kondisi sosial, ekonomi dan budaya dengan konsep pemberdayaan masyarakat. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa hasil pelatihan keterampilan masih banyak yang kurang sesuai dengan harapan penyelenggara. Setelah pelaksanaan pelatihan warga belajar belum mampu mengimplementasikan hasil pelatihan dalam tindakan nyata di lingkungannya. Akibatnya outcome pelatihan belum dapat dirasakan secara nyata dan program hasil pelatihan kurang membantu dalam peningkatan kemandirian ekonomi dan semangat kewirausahaan warga belajar maupun peningkatan kualitas program PAUDNI. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pelatihan masih belum efektif.
Terkait hal diatas, penulis mengevaluasi penyelenggaraan program PAUDNI khususnya pelatihan keterampilan yang diselenggarakan oleh SKB Kota Salatiga mulai tahun 2010 sampai dengan tahun 2011 dalam kegiatan Kursus Usaha Pemuda Produktif (KUPP), Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH)  serta Desa Vokasi. Hasil evaluasi pelatihan keterampilan dikatakan kurang efektif, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu  1) belum berdasarkan analisa kebutuhan, 2) belum menggunakan data dan informasi, 3) belum memberikan efek penguatan dalam proses pembelajaran, 4) beberapa tutor sekedar mentransfer pengetahuan dan belum menerapkan prinsip pembelajaran andragogi, 5) evaluasi dilakukan hanya pada peserta pelatihan saja.
Selain itu masih terdapat kendala yang perlu diperbaiki dan diubah selama pelaksanaan pelatihan keterampilan, meliputi : 1) materi pelatihan lebih cenderung ditentukan oleh pemberi kebijakan (top down), 2) Peserta dan fasilitator yang kurang tepat sasaran, 3) belum mampu merespon permasalahan apa yang dibutuhkan dengan apa yang didapat dari pelatihan, 4) kurang terciptanya iklim yang kondusif, serta 5) output yang dihasilkan belum mampu mengimplementasikan kompetensinya.
Berdasarkan hasil evaluasi penyelenggaraan pelatihan keterampilan yang dilaksanakan SKB Kota Salatiga pada tahun 2010 – 2011, maka dibutuhkan suatu model pelatihan keterampilan dalam Program Pendidikan Masyarakat yang mampu mengatasi kesenjangan dan mengoptimalkan seluruh komponen pelatihan sehingga tercapai kualitas pelatihan yang maksimal. Model yang dipilih untuk dikembangkan dalam penelitian ini adalah model Analyze Design Development Implementation and Evaluation (ADDIE) yang dikembangkan oleh Dick dan Carey (2004).
Guna mengoptimalkan pengelolaan komponen, pelatihan dan lingkungan yang mempengaruhi agar efektif, dinamis serta mendukung kinerja pelatihan itu sendiri maka penulis mencoba menerapkan model ADDIE pada pelatihan keterampilan di SKB Kota Salatiga. Model ini menggunakan 5 tahap atau langkah pengembangan, yakni :    1) analyze (analisa kebutuhan); 2) design (desain atau perancangan); 3) development (pengembangan); 4) implementation (implementasi atau eksekusi); dan 5) evaluation (evaluasi atau umpan balik). Implementasi model ADDIE diharapkan dapat membantu pengembangan material dan program pelatihan yang tepat sasaran, efektif, dan dinamis.

B.   Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka fokus permasalahan penelitian ini adalah bagaimana penerapan model ADDIE dalam pelatihan keterampilan sebagai upaya meningkatkan efektifitas pelatihan.

C.   Tujuan
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang upaya peningkatan efektivitas pelatihan keterampilan melalui penerapan model ADDIE.

BAB II
LANDASAN TEORI

A.   Kajian Pustaka

1.    Pengembangan Model
Pengembangan model adalah usaha penemuan atau perbaikan sesuatu yang baru (adaptif dan inovatif) menurut kaidah-kaidah dan metode ilmiah tertentu sehingga melahirkan formulasi yang dikehendaki (Rifai, 2014). Pengembangan model dapat dilakukan untuk kepentingan  program, pembelajaran, pelatihan, dan pembimbingan pada PAUDNI. Pengembangan model bertujuan untuk mencari alternatif dalam meningkatkan mutu penyelenggaraan program, pembelajaran, pelatihan dan pembimbingan  pada PAUDNI. 
Prinsip-prinsip pengembangan model menurut Priyanto (2012) adalah 1) relevan, sesuai dengan kebutuhan, potensi, kondisi dan perkembangan yang ada di   masyarakat, 2) fleksibel,  model yang dikembangkan dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi pengembangan program dan kebutuhan belajar anggota masyarakat, 3) praktis, model yang dikembangkan mudah diaplikasikan oleh setiap pihak yang berkepentingan, 4) aktual, model yang dikembangkan bersifat inovatif dan nyata kebermanfaatannya, 5) efektif dan efisien, model  yang dikembangkan memiliki nilai tepat guna/tepat sasaran dan nilai ekonomis.

2.    Model ADDIE
Model Analyze Design Development Implementation and Evaluation (ADDIE) yang dikembangkan oleh Dick dan Carey (Sugiyono:2009) memiliki karakteristik dominansi pada teori pembelajaran behaviorism. Teori ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar, yang menjadi prinsip dalam program Pendidikan Masyarakat PAUDNI khususnya pelatihan keterampilan. 
Model  ADDIE    menggunakan  pendekatan sistem dalam  mendesain  sistem  instruksional  pelatihan.    Hal  ini  ditujukan  agar  proses  pelatihan  yang  dijalankan  berjalan  secara  komprehensif  serta  fokus  pada  kebutuhan  penyelenggara pelatihan dan  warga belajar.  Model  instruksional  ADDIE  merupakan proses  instruksional  yang merepresentasikan  panduan  perangkat  pengembangan  pelatihan  dan  kinerja  yang  dinamik.
Proses pelatihan yang dikembangkan melalui model ADDIE, tahapannya adalah sebagai berikut:
1.    Analysis
Tahap analisis merupakan suatu proses mendefinisikan apa yang akan dipelajari oleh warga belajar dengan melakukan need assessment (analisis kebutuhan), mengidentifikasi kebutuhan, serta melakukan analisis tugas (task analysis). Output yang dihasilkan berupa karakteristik calon warga belajar, identifikasi kesenjangan, identifikasi kebutuhan dan analisis tugas yang rinci berdasarkan kebutuhan.
2.    Design
Tahap desain meliputi identifikasi tujuan pembelajaran,  strategi dan  kegiatan apa  yang diperlukan untuk  mencapai  tujuan,  sumber  daya  yang  dibutuhkan, maupun jumlah pertemuan dalam suatu program pelatihan. Desain tujuan pelatihan perlu memperhatikan prinsip SMART, yaitu  Spesific,  Measureable,  Acceptable to you, Realistic to achieve, dan Time-bound with deadline.
3.    Development
Tahap pengembangan adalah proses mewujudkan desain menjadi kenyataan. Artinya, jika suatu desain memerlukan software multimedia pembelajaran atau modul, maka perlu dilakukan penyusunan multimedia dan modul.
4.    Implementation
Tahap implementasi adalah penerapan sistem pembelajaran yang telah disusun. Pelaksanaan kegiatan pelatihan dengan mengaplikasikan  strategi  dan  memandu  kegiatan,  berbagi  feedback  program  pelatihan dan metodenya, melakukan tes, melakukan modifikasi desain pelatihan, dan material berdasarkan temuan feedback  .
5.    Evaluation
Tahap evaluasi adalah kegiatan mendapatkan feedback dari tutor, penyelenggara dan warga belajar dalam rangka  meningkatkan  manajemen program, mutu  pelatihan  dan  mengidentifikasi pencapaian tujuan pelatihan. Evaluasi formatif dilakukan untuk kebutuhan revisi pada setiap tahap.
3.    Efektifitas
Efektifitas berasal dari kata dasar efektif. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia efektif artinya dapat membawa hasil, berhasil guna (Depdikbud, 1995).  Keefektifan diartikan sebagai keberhasilan suatu usaha atau tindakan. Efektifitas juga dapat diartikan sebagai pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
Sesuai dengan definisi efektifitas menurut Grondlund dan Lynn (1990) ”effectiveness characterized by qualitative outcomes”, kualitatif hasil dikaitkan dengan pencapaian visi lembaga. Manajemen program dikatakan memenuhi prinsip efektifitas apabila kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan lembaga dan kualitatif outcomes-nya sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

4.    Pelatihan
Ivancevich (2008) merumuskan pelatihan sebagai bagian pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan keterampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku, dalam waktu yang relatif singkat dengan menggunakan metode yang mengutamakan praktek daripada teori.
Pelatihan pada dasarnya meliputi proses belajar mengajar dan bertujuan untuk mencapai tingkatan kompetensi tertentu. Setelah mengikuti pelatihan, warga belajar diharapkan mampu merespon dengan tepat dan sesuai situasi tertentu sehingga dapat memperbaiki kinerja yang langsung berhubungan dengan situasinya sehingga lebih efektif dan efisien.
Menurut Sudjana (1993) pelatihan merupakan suatu sistem dengan komponen-komponen yang komprehensif, meliputi.
                a.    Masukan sarana (instrument input), yang meliputi keseluruhan sumber dan fasilitas yang menunjang kegiatan pembelajaran mencakup kurikulum, tujuan pelatihan, sumber belajar, fasilitas belajar, biaya yang dibutuhkan, dan pengelola pelatihan.
                b.    Masukan mentah (raw input), yaitu peserta pelatihan dengan berbagai karakteristiknya, seperti pengetahuan, keterampilan dan keahlian,  jenis kelamin, pendidikan, kebutuhan belajar, latar belakang sosial  budaya, latar belakang ekonomi, dan kebiasaan belajarnya.
                c.    Masukan lingkungan (environment input) yaitu faktor lingkungan   yang menunjang pelaksanaan kegiatan, seperti lokasi pelatihan.
                d.    Proses (process), merupakan kegiatan interaksi edukatif yang terjadi dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan antara nara sumber teknis dengan  warga belajar.
                e.    Keluaran (output), yaitu lulusan yang telah mengalami proses  pembelajaran pelatihan.
                 f.    Masukan lain (other input), yaitu daya dukung pelaksanaan pelatihan, seperti pemasaran, lapangan kerja, informasi, dan situasi sosial budaya yang berkembang.
                g.    Pengaruh (impact), yaitu yang berhubungan dengan hasil belajar yang dicapai oleh peserta pelatihan meliputi peningkatan taraf   hidup,   kegiatan membelajarkan orang lain lebih lanjut, dan peningkatan partisipasi dalam kegiatan sosial dan pembangunan masyarakat.

B.   Kerangka Berpikir
Kondisi faktual penyelenggaraan program pelatihan keterampilan menunjukkan bahwa penyelenggara belum melaksanakan analisis kebutuhan (need assessment) sehingga program pelatihan yang dilaksanakan belum mampu merespon permasalahan apa yang dibutuhkan dengan apa yang didapat dari pelatihan.  Selain itu pemilihan warga belajar maupun fasilitator yang tidak tepat sasaran mengakibatkan terciptanya iklim yang kurang kondusif sehingga pelaksanaan pelatihan keterampilan tidak optimal.
Program pelatihan keterampilan belum menggunakan data dan informasi sehingga tidak ada pemetaan terhadap seluruh rancangan pelatihan. Hal ini berimbas pada penyusunan desain yang kurang terarah. Rancangan pelatihan yang tidak terarah menghasilkan outcome yang belum mampu mengimplementasikan kompetensinya.
Berdasarkan kondisi faktual tersebut, maka dilaksanakan pengembangan model instruksional ADDIE dalam program pelatihan keterampilan. Model instruksional ADDIE terdiri dari lima langkah pengembangan, yakni 1) analyze (analisa kebutuhan), 2) design (desain atau perancangan), 3) development (pengembangan), 4) implementation (implementasi atau eksekusi), dan 5) evaluation (evaluasi atau umpan balik).  
Evaluasi dilaksanakan pada setiap tahapan model ADDIE dengan fokus pada desain program pelatihan, penggunaan sumber daya, dan hasil yang diperoleh oleh partisipan program pelatihan. Evaluasi dilaksanakan dalam rangka kebutuhan revisi. Berdasarkan hasil revisi dilakukan pengembangan dan penyempurnaan program pelatihan untuk meningkatkan mutu pelatihan dan mengidentifikasi pencapaian tujuan pelatihan.
Output pengembangan model ADDIE dalam program pelatihan keterampilan adalah peningkatan efektifitas penyelenggaraan program. Kualitatif output dari pengembangan model ADDIE dalam program pelatihan keterampilan adalah partisipan pelatihan yang tepat sasaran, manajemen program yang terarah, kegiatan pembelajaran yang optimal dan kondusif serta lulusan pelatihan yang profesional dan siap memasuki dunia kerja, mampu berwirausaha, dan berkarakter.

C.   Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah pengembangan model Analyze Design Development Implementation and Evaluation (ADDIE) dapat meningkatkan efektifitas program pelatihan keterampilan.
 
BAB III
METODE PENGEMBANGAN

A.   Metode Pengembangan
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan adalah rancangan penelitian dan pengembangan pendidikan (educational research and development) menurut Borg dan Gall yang dimodifikasi oleh Sugiyono (2009). Research and Development (R&D) adalah proses penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan dan memvalidasi produk pendidikan berupa tujuan pembelajaran, metode, cara, prosedur, kurikulum, evaluasi. Adapun tujuan akhir yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah pengembangan model instruksional ADDIE yang mampu meningkatkan efektivitas program pelatihan keterampilan. Model pengembangan produk dapat digambarkan sebagai berilut. 

B.   Lokasi dan Waktu
Lokasi penelitian adalah SKB Kota Salatiga di Jalan Veteran No. 45 Kecamatan Tingkir Salatiga Jawa Tengah. Alasan pemilihan lokasi karena SKB Kota Salatiga  telah menyelenggarakan program pelatihan keterampilan hingga tahun 2014 dan memiliki dokumen program pelatihan keterampilan sebagai acuan penelitian. Kegiatan penelitian dilakukan mulai bulan Mei 2014 sampai dengan akhir Agustus 2014.  

C.   Teknik Pelaksanaan
Langkah-langkah yang ditempuh dalam Research and Development (R&D) dapat disederhanakan dalam empat tahapan, yaitu (1) tahapan studi pendahuluan, (2) tahapan pengembangan model, (3) tahapan uji coba model, dan (4) tahapan penyusunan model yang direkomendasikan.

                     Tahapan studi pendahuluan meliputi kajian teoritik dan regulasi dengan metode survey yang menghasilkan need assessment dalam merancang pengembangan suatu model. Serta pengumpulan data dan informasi sebagai bahan perencanaan pengembangan produk yang diharapkan dapat mengatasi masalah yang dialami dalam program pelatihan dengan pendekatan studi kasus.
Tahapan pengembangan model meliputi penyusunan desain model konseptual, validasi desain produk yang dilakukan dalam forum diskusi dengan beberapa pakar atau tenaga ahli untuk menilai produk baru yang dirancang, serta penyusunan model hipotetik berdasarkan hasil diskusi terfokus dengan pakar.
Tahapan uji coba model meliputi uji coba model secara terbatas, revisi dan hasil uji coba terbatas, uji coba model secara lebih luas serta revisi dan hasil uji coba secara luas. Uji coba model secara terbatas dilakukan dengan simulasi manajemen. Pengujian dilakukan untuk memperoleh informasi apakah pengembangan model manajemen baru lebih efektif dan efisien dibandingkan model manajemen lama.
Tahap terakhir adalah tahapan penyusunan model yang direkomendasikan, yang merupakan model akhir setelah melalui beberapa tahapan revisi. 

D.   Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada setiap tahapan Research and Development (R&D) adalah sebagai berikut.
a.    Tahap studi pendahuluan menggunakan observasi, kajian pustaka dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung proses penyusunan rencana, proses pelaksanaan, dan proses penyelenggaraan monitoring dan evaluasi program pelatihan. Data dan informasi diperoleh dari beberapa sumber, yakni penyelenggara pelatihan dan nara sumber teknis. Kajian pustaka dimaksudkan untuk memperoleh informasi teoritik tentang fokus penelitian.
b.    Tahap pengembangan model hipotetik (konseptual), pengumpulan datanya menggunakan diskusi terfokus dengan pakar manajemen pendidikan dan pelatihan.
c.    Tahap uji coba lapangan, pengumpulan data dilakukan melalui tes, kuesioner, wawancara dan observasi terfokus.
E.   Teknik Analisa Data
Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis data dan informasi yang diperoleh dari studi eksplorasi, proses pengembangan model, serta hasil uji  coba model dari pakar melalui metode diskusi terfokus (Focus Group Discussion). Penggunaan analisis deskriptif dimaksudkan untuk memperoleh gambaran tentang peran penyelenggara, pendidik, dan masyarakat peserta pelatihan dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pelatihan. Analisis deskriptif juga digunakan untuk memperoleh gambaran tentang kelemahan model yang divalidasi dan diujicobakan di lapangan, sehingga hasilnya dapat digunakan sebagai dasar untuk merevisi dan mengembangkan model.
Analisis data deskripsi ini menggunakan pendekatan studi kasus. Miles (1992) menyatakan bahwa deskripsi kasus merupakan teknik analisis untuk mengembangkan kerangka kerja deskriptif dalam mengorganisir data dan informasi. Prosedur analisis data dalam teknik analisis ini adalah (1) mengorganisir data ke dalam kelompok masalah tertentu yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, (2) mengedit data untuk memadatkan informasi, dan (3) mendeskripsikan informasi data secara kronologis.    

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.   Analisis Kondisi Faktual
Kondisi faktual yang dianalisis dalam penelitian ini dilakukan dengan mengadakan studi dokumentasi dan wawancara. SKB Kota Salatiga sebagai unit pelaksana teknis daerah di bidang PAUDNI seringkali menyelenggarakan pelatihan keterampilan life skill  tiap tahun. Berdasarkan hasil studi eksplorasi dengan teknik pengumpulan data studi dokumentasi dan wawancara, dapat disimpulkan bahwa  program pelatihan life skill pada tahun 2010 dan 2011 dikatakan kurang efektif.
Model pelatihan masih bersifat teoritis sehingga perolehan hasil dan tingkat capaian tujuan pelatihan kurang maksimal. Hal tersebut dikarenakan pengelolaan manajemen program yang belum optimal, metode pembelajaran yang didominasi ceramah, belum mengimplementasikan analisa kebutuhan dan perumusan tujuan pelatihan yang tidak sinkron dengan kebutuhan.
Salah satu model pelatihan yang dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas program pelatihan keterampilan atau life skill adalah model Analyze Design Development Implementation and Evaluation (ADDIE). Program pelatihan merupakan suatu sistem terintegral dengan seperangkat komponen yang saling berinteraksi melalui proses belajar untuk menghasilkan kompetensi tertentu (Ritonga : 2014). Model ADDIE dengan pendekatan sistem menyelaraskan peran manajemen penyelenggara pelatihan yang profesional untuk mengkoordinir aktivitas dari sub sistem dan hubungan dengan lingkungan agar dihasilkan output yang kompeten sesuai dengan tujuan pelatihan.   
Kelemahan dalam penerapan metode ADDIE pada pelatihan keterampilan merupakan permasalahan teknis yang dapat dicari alternatif solusinya sebagai berikut.
1.    Waktu.
Metode ini cenderung membutuhkan waktu relatif lebih lama untuk perencanaan dan persiapan. Perlunya survei lapangan, pembuatan desain dan merekonstrusi pengembangannya, serta evaluasi yang dilakukan pada setiap tahapan cukup menyita waktu. Upaya menanggulangi kendala ini dengan melakukan pelatihan keterampilan yang berkesinambungan dari tahun ke tahun sehingga konsep yang dikembangkan tidak mulai dari nol lagi.  
2.    Data dan informasi yang kurang akurat dan up to date.
Data dan informasi sangat diperlukan untuk analisa lapangan (studi eksplorasi) dan pemetaan sasaran yang sangat menentukan karakteristik, arah dan sebarannya. Untuk mengatasi hal ini, maka data dan informasi dihimpun dari beberapa sumber untuk mengurangi kesalahan penafsiran dan kelengkapan data.
3.    Penyelenggara kurang mempunyai kompetensi dan motivasi. 
Model ADDIE membutuhkan teamwork yang solid dan panitia penyelenggara yang berkompeten, kreatif dan pekerja keras yang ulet sehingga dihasilkan model pelatihan yang berkualitas.  Upaya mengatasi kelemahan ini dengan keberadaan pakar atau konsultan sebagai inspirator, kreator dan motivator. 

B.   Hasil Validasi Draft Model
Diskusi terfokus melibatkan beberapa unsur yaitu akademisi, nara sumber teknis, tutor, pamong belajar, serta Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Salatiga. Materi yang dikaji dalam diskusi terfokus adalah model instruksional ADDIE dalam program pelatihan keterampilan beserta berbagai komponen pendukungnya, yaitu desain model, kurikulum, silabus serta strategi pembelajaran.
 Desain model ADDIE berorientasi pada kebutuhan, berdasarkan karakteristik warga belajar dan pemetaan sasaran. Hal ini mempermudah peserta dalam mengimplementasikan capaian kompetensi di lingkungan. ADDIE merupakan model pelatihan yang efektif dalam penyelenggaraan pelatihan karena mampu meningkatkan kualitas program PAUDNI dan menghasilkan outcome yang tepat sasaran dan tepat tujuan.

C.   Hasil Uji Coba Model
Uji coba lapangan terbatas dilakukan di SKB kota Salatiga yang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Salatiga serta pihak Kelurahan Cebongan Kecamatan Argomulyo Salatiga selama pelaksanaan pelatihan keterampilan sulam payet. Pelatihan keterampilan sulam payet dilaksanakan mulai bulan Mei 2014 sampai dengan akhir Agustus 2014.
Evaluasi tentang kemudahan dalam pemahaman dan penerapan model ADDIE dilakukan dengan menggunakan instrumen evaluasi. Pedoman penskoran instrumen dibagi dalam kriteria berikut.
NO
INTERVAL
KRITERIA
KETERANGAN
1
91 – 100
   Sangat baik
Efektif
2
81 – 90
   Baik
Efektif
3
71 – 80
   Cukup baik
Efektif
4
61 – 70
   Kurang baik
Tidak Efektif
Tabel 1. Kriteria Evaluasi Pelatihan Keterampilan
Responden yang dimintai pendapat ada empat orang yaitu Ketua, Sekretaris, Bendahara dan Unit Akademik. Rata-rata skor instrumen adalah 83,67 sehingga dapat disimpulkan bahwa Model ADDIE dalam Program Pelatihan mudah dipahami dan mudah diterapkan.
Manajemen pelaksanaan program pelatihan keterampilan dalam bidang perencanaan telah dilakukan dengan baik oleh penyelenggara program (skor 84). Penyelenggara program pelatihan telah melaksanakan analisa kebutuhan. Hal ini terlihat dari alasan peserta ,mengikuti program pelatihan dan pemilihan jenis keterampilan yang akan dilatihkan. Ternyata sebagian besar peserta mengikuti pelatihan karena jenis pelatihan yang diselenggarakan oleh penyelenggara program sesuai dengan kebutuhan mereka.
Manajemen bidang penyusunan desain menunjukkan  skor 83 termasuk dalam kriteria baik. Berdasarkan deskripsi data tentang penyusunan desain program pelatihan, penyelenggara program pelatihan telah menggunakan hasil analisis kebutuhan dalam penyusunan desain. Penyelenggara program pelatihan telah melakukan sosialisasi tujuan dan jenis program pelatihan keterampilan dengan baik. Pengadaan sarana dan prasarana sesuai dengan tujuan dan jenis keterampilan yang dilatihkan. Pemilihan nara sumber teknis dengan standar baku.
Manajemen bidang pengembangan software dan hardware pelatihan (skor 86) termasuk dalam kriteria baik. Deskripsi data menunjukkan penyelenggara program dan NST telah menggunakan media pembelajaran yang bervariasi, mulai dari menampilkan power point untuk penjelasan pengertian, penggunaan gambar-gambar, model dan penyusunan modul pelatihan keterampilan.
Manajemen bidang implementasi kegiatan pembelajaran (skor 74) telah berada dalam kriteria baik. Secara kualitatif, diperoleh beberapa temuan melalui pengembangan model ADDIE dalam pelatihan keterampilan, yaitu (1) meningkatnya kompetensi warga belajar, (2) pelaksanaan bimbingan dan pembinaan sesuai kebutuhan warga belajar, (3) meningkatnya partisipasi dalam kegiatan pembelajaran, (4) terciptanya motivasi belajar yang tinggi, dan (5) terciptanya interaksi saling membelajarkan.
Penilaian meliputi ragam pelaksanaan evaluasi, standar penilaian, relevansi, keterlibatan masyarakat, dan pemanfaatan hasil penilaian menunjukkan skor 92 dalam kriteria sangat baik. Evaluasi program dilaksanakan secara keseluruhan mulai dari konteks, input, proses, dan produk.
  Berdasarkan hasil ini, maka dapat disimpulkan bahwa model ADDIE efektif dapat meningkatkan kualitas penyelenggaraan program pelatihan keterampilan. Model ADDIE yang dikembangkan juga dapat dijadikan sebagai model alternatif yang dapat meningkatkan kualitas manajemen program dan kompetensi warga belajar peserta pelatihan keterampilan.

BAB V
PENUTUP
 A.   Kesimpulan
Kesimpulan dari pembahasan di atas adalah bahwa model ADDIE merupakan suatu langkah atau prosedur dalam pelatihan yang menggunakan tahapan analisa (analyze), desain (design), pengembangan (development), pelaksanaan (implementation), dan evaluasi (evaluation) yang dapat diterapkan pada pelatihan keterampilan di SKB Kota Salatiga. Model ADDIE dapat memperbaiki kekurangan dan kelemahan melalui evaluasi formatif di setiap tahapan sehingga mampu meningkatan efektifitas pelatihan keterampilan di SKB Kota Salatiga.
Substansi model ADDIE dalam pelatihan keterampilan yang dikembangkan adalah suatu program pelatihan yang didesain secara sistemik dalam mengembangkan dan memberdayakan potensi warga belajar sesuai dengan kebutuhannya, mengelola resistensi peserta menjadi motivasi belajar, serta memecahkan masalah belajar yang dihadapinya. Pendekatan yang digunakan dalam model ini adalah pendekatan yang mengedepankan prinsip-prinsip andragogi.  
B.   Saran
Bagi penyelenggara program pelatihan keterampilan disarankan untuk dapat mengkaji lebih lanjut hasil penelitian ini sehingga menjadi salah satu referensi model yang dapat meningkatkan efektifitas pelatihan yang dilaksanakan di lembaga PAUDNI.


DAFTAR PUSTAKA

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. 2012. Profil Daerah Kota Salatiga Tahun 2012. BAPPEDA.

Depdikbud. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Grondlund, N.E., Linn, R.L. 1990. Measurement and Evaluation in Teaching. New York : Macmillan.

Ivancevich, John, M, dkk. 2008. Perilaku dan Manajemen Organisasi. Jakarta: Erlangga.

Kementerian Pendidikan Nasional. 2011. Permen PAN-RB No. 15 Tahun 2010 Tentang Jabatan Fungsional Pamong Belajar dan Angka Kreditnya. Jakarta: Kemdiknas.

Miles, Matthew dan Huberman, A. Michael. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta:UI Press.

Priyanto, Sony Heru.. 2012.  Pengembangan Model. Makalah disajikan dalam Pelatihan Pengembangan Model Pamong P2PAUDNI

Rifai, Achmad. 2014. Penyusunan Pengembangan Model. Makalah disajikan dalam Workshop Pengembangan Model P2PAUDNI Regional II.

Situmorang, Julaga. 2010. Pengkajian Program Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) dalam Menyelenggarakan Program Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) di Sumatera Utara. Jurnal Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Medan, 21 : 31-50

Sudjana, D. 1993. Metoda dan Teknik Pembelajaran Partisipatif. Bandung: Nusantara Press.

Sugiyono. 2009. Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung : Alfabeta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar